"

Pernah suatu hari, jaman kuliah dulu, “ditegur” ama temen krn (katanya) dada gw masih terbentuk walaupun uda pake jilbab yg menutup dada.

Gw ganti gaya jilbab, dibilang masih ngebentuk juga.
Gw ganti letak ransel gw juga dibilang masih ngebentuk.

Trus gw mikir.
Secara anatomi, bentuk dada perempuan memang begitu bukan? Kecuali masektomi, baru bakalan rata dan cara berpakaian perempuan dianggap ga lagi “ngebentuk”

———————————————-

Gw jadi amazed dgn konstruksi sosial atas daging tak bertulang ini. Semacam benci tapi cinta.

Di satu sisi, posisinya paripurna, bisa mengangkat martabat perempuan saat digunakan utk menyusui yg dianggap menyambung hidup makhluk hidup lain.

Mereka yg menutupinya juga dipandang suci krn dianggap bertanggung jawab dan berkontribusi membantu laki2 menahan hawa nafsunya (yg menurut gw sebetulnya adl tanggung jawab masing2 diri)

Tapi jangan salah, penghakiman atas mereka yg tidak (mau atau mampu) menggunakannya utk menyusui juga teramat hebatnya. Seorang manusia bisa jadi “terdakwa” karena bagian tubuhnya sendiri.

Belum lagi mereka yg dengan sengaja berpakaian untuk membentuk atau memperlihatkannya dianggap tak bermoral, provokatif, bahkan pantas utk dilecehkan.

Aneh nih.
Tekanan sosial seolah menuntut agar bagian tubuh itu ditutupi, tapi diam2 bagian tubuh itu disukai dan digilai.
Dicintai dan dibenci.

……

Dan lalu gw pribadi memutuskan utk menutupinya. Dengan pakaian dan dengan jilbab. Buat gw itu adalah penanda.
Sebagai pagar yg membuat gw punya hak yg kuat utk segera menyerang siapapun yg berani melompatinya.

"
— (via neqyrika)

Sapo tahu + udang goreng tepung + perkedel tahu

#pernikahanharike43
#eatprayandbemarried
#latepost – View on Path.

lizafarihah:

Cara mencari kebahagiaan dalam era posmo?

Oleh: Andi Mallarangeng

Sejak berada dalam tahanan KPK, Andi Mallarangeng punya lebih banyak waktu luang. Sambil menunggu pengadilan, ia mencoba memanfaatkan waktunya secara produktif dengan membaca dan menulis. Aturan KPK tak membolehkan penggunaan laptop, iPad dan semacamnya oleh para tahanan. Andi menulis artikel ini dengan tulisan tangan, dan kemudian disalin kembali oleh Redaksi VIVAnews agar bisa dinikmati oleh pembaca. Andi berusaha menulis di rubrik “Analisis” sekali seminggu. 

——

Masih ingat teori Abraham Maslow yang tersohor itu? Teori ini, yang mulai dikenal pada tahun 1940an, adalah teori tentang hierarki lima tingkat kebutuhan manusia yang berlaku universal, the five-level hierarchy of needs. Kebutuhan untuk makan dan minum, kebutuhan akan keamanan fisik, kebutuhan pada kasih sayang, penghargaan serta keterlibatan sosial. Jenjang tertinggi dan terakhir dalam susunan ini ditempati oleh kebutuhan manusia untuk melakukan aktualisasi diri. 

Teori Maslow, dalam ilmu politik, mendatangkan banyak perdebatan tajam dan menarik. Tapi kali ini saya tidak akan menulis soal politik. Saya menyinggung teori ini karena beberapa saat lalu saya membaca ulasan Prof. Eli Finkel, seorang psikolog terkemuka dari Northwestern University, AS, yang menggunakan teori tersebut dalam mengulas soal perkawinan. Dengan judul yang mencuri perhatian, “The All-or-Nothing Marriage,” ulasan ini diterbitkan sehalaman penuh oleh koran The International New York Times untuk menyambut datangnya Hari Cinta, the Valentine’s Day, yang dirayakan oleh kaum muda di berbagai belahan dunia pada 14 Februari yang silam. 

Saya tertarik sebab Prof. Finkel memberikan sebuah pandangan baru. Walaupun cukup sederhana, di dalamnya ada beberapa pelajaran yang dapat dipetik, setidaknya sebagai bahan pertimbangan oleh pasangan muda yang telah menikah dan kaum muda lainnya yang suatu waktu kelak akan mengikatkan diri dalam bahtera perkawinan. 

Selama ini, dalam studi mengenai perkawinan, ada dua pandangan yang berseberangan. Yang pertama adalah pandangan yang berkata bahwa lembaga perkawinan telah menyusut, surut dan mencair dalam masyarakat yang semakin modern. Buktinya, hampir setengah dari perkawinan (di Amerika Serikat) berakhir dengan perceraian dan kegagalan rumah tangga. Prof. Finkel menyebut kaum yang mengusung pendapat ini sebagai the marital decline camp.      

Pandangan lain adalah pandangan dari the marital resilience camp. Angka perceraian yang tinggi, menurut pandangan ini, memang tidak diingkari, tetapi ia tidak otomatis buruk. Perceraian hanyalah sebuah akibat dari tumbuhnya semangat otonomi individual, khususnya di kalangan kaum perempuan. Adalah hal yang lebih negatif, menurut pandangan ini, jika perkawinan terus dipertahankan dengan memaksakan kaum perempuan untuk menerima nasib begitu saja, termasuk menerima kenyataan pahit dari perkawinan yang kering dan tidak lagi diikat oleh cinta dan suasana saling menghargai. Bukankah berpisah secara baik-baik jauh lebih sehat ketimbang bertahan dalam ikatan yang saling menyakiti perasaan masing-masing? 

Teori baru Prof. Finkel ingin menjembatani kedua pandangan yang bertentangan tersebut. Baginya, kedua pandangan di atas bisa benar dan bisa salah secara bersamaan. Nasib lembaga perkawinan dalam kecenderungan masyarakat post-modern sekarang adalah “lebih baik” dan sekaligus “lebih buruk.”

Maksudnya apa? Prof. Finkel mengakui bahwa secara umum pasangan yang berusaha bertahan saat ini menemui lebih banyak dilema dan kesulitan. Karena itulah angka perceraian cenderung meninggi dan keluarga yang berantakan sudah menjadi gejala umum. Tapi bagi mereka yang sanggup melewatinya, terbentang potensi kebahagiaan yang secara kualitatif jauh lebih baik dan lebih substansial dari sebelumnya. Yang gagal semakin terkapar, sementara yang berhasil semakin bahagia dan menemukan pemenuhan diri yang hakiki. 

Bagi Prof. Finkel, kesenjangan antara keduanya, yaitu mereka yang menderita dan mereka yang berbahagia, kini semakin menganga. Itulah ciri khas lembaga perkawinan saat ini. All-or-nothing marriage: kalau gagal, perkawinan terpuruk dalam jurang yang dalam; sebaliknya, kalau berhasil, ia akan menjadi sumber pengembangan dua sejoli, beserta anak-anak mereka, dalam suasana yang saling mengisi, penuh cinta, kemesraan, dan kepuasan pribadi. 

Tapi apa yang menyebabkan satu pasangan terpuruk dan yang satu lagi beruntung melanggengkan perkawinan? Apa rahasia di baliknya? Di sinilah teori Maslow mulai relevan. Untuk menjelaskannya, Prof. Finkel menggunakan jalan yang agak sedikit melingkar.

Mengikuti tipologi yang telah dirumuskan sebelumnya oleh sosiolog Andrew Cherlin dan sejarawan Stephanie Coontz, Prof. Finkel menjelaskan tiga tahap perkembangan lembaga perkawinan yang telah terjadi di Amerika Serikat. Model perkawinan tahap pertama adalah institutional marriage yang menjadi ciri khas di abad ke-19. Saat itu, AS masih merupakan masyarakat pertanian. Perkawinan lebih banyak dilakukan untuk memenuhi kebutuhan yang paling dasar, yaitu kecukupan pangan, papan, reproduksi, dan keamanan. Cinta dan kasih sayang tentu saja merupakan faktor penting, tetapi ia lebih dianggap sebagai bonus perkawinan, bukan tujuan utamanya.  

Tahap berikutnya adalah model companionate marriage di abad ke-20. Perkembangan ini terjadi saat masyarakat AS sudah berubah menjadi masyarakat industri. Kaum pria berubah, dari kaum petani menjadi kaum pekerja, sementara kaum perempuan mulai meniti karir di luar rumah. Kebutuhan material dan persamaan hak telah tercapai, sebuah ciri masyarakat yang oleh ekonom John Kenneth Galbraith disebut sebagai the affluent society. Dengan perkembangan baru ini, tidak heran jika tujuan perkawinan juga turut berubah. Perkawinan bukan lagi melulu soal social security dan pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi lebih dianggap sebagai lembaga perpaduan cinta, pemenuhan kebutuhan romantika seksual, serta pencariancompanionship.

Evolusi berikutnya yang terus menguat sampai sekarang adalah model self-expressive marriage. Model ini kira-kira mulai berkembang sejak pertengahan dekade 1960, seiring dengan semangat counter-culture yang merebak saat itu, khususnya di kalangan kaum muda. Tujuan dan motivasi perkawinan mengalami perubahan: ia lebih dipandang sebagai pilihan pribadi untuk mencapai pemenuhan diri, personal fulfillment

You make me a better man.” Itulah ungkapan yang dikatakan oleh Jack Nicholson kepada pasangan mainnya, Helen Hunt, dalam film Hollywood “As Good As It Gets” (1997), karya sutradara James Brooks. Bagi Prof. Finkel, di balik ungkapan itulah terkandung esensi dari model perkawinan baru ini. Perkawinan bukan sekadar cinta, seks, dan pembentukan keluarga. Ia adalah sebuah eksplorasi untuk menjadi diri-yang-lebih-baik, lebih aktual, lebih bergairah. Untuk lebih memperjelasnya, Prof. Finkel juga menyitir ucapan sosiolog kenamaan, Robert N. Bellah, bahwa “love has become, in good part, the mutual exploration of infinitely rich, complex and exciting selves.”

Walaupun Prof. Finkel tidak menyinggungnya, mungkin bisa ditambahkan bahwa salah satu contoh terbaik dari model terakhir ini bisa ditemukan pada memoar perjalanan dan pencarian kehidupan yang menjadibest-seller sedunia, “Eat, Pray, Love” (2006). Penulisnya adalah seorang novelis muda, wanita yang cerdas dan empatik, Elizabeth Gilbert (buku ini pada 2010 dinaikkan ke layar lebar dengan judul yang sama, diperankan oleh bintang Hollywood ternama, Julia Roberts). 

Di dalamnya bertebaran potongan cerita dan pengalaman pribadi penulisnya yang menarik, sedih, empatik, dan terkadang lucu sekaligus. Intinya, pada usia 31 tahun, Elizabeth Gilbert mengakhiri perkawinan yang hanya berisi kepedihan. Kemudian ia memutuskan untuk mencari dan menemukan dirinya, dengan melakukan perjalanan serta tinggal beberapa lama di Italia, India, dan Indonesia (Bali). Setelah melewati proses aktualisasi diri hampir setahun, ia berhasil berdamai dengan dirinya, dan di Pulau Dewata, menemukan cintanya yang abadi. A story with a happy ending, sebuah buku yang sangat layak dibaca oleh kaum muda dan pasangan muda di mana pun. 

Singkatnya, buku Elizabeth Gilbert menunjukkan, tanpa sepenuhnya disadari oleh penulisnya, bahwa fondasi kebahagiaan hidup, termasuk dalam menemukan cinta sejati, adalah jika kita telah terlebih dahulu berdamai dengan diri kita sendiri. Dengan itulah kita kemudian bisa lebih leluasa untuk berkembang, baik sebagai pribadi, maupun sebagai pasangan hidup dari individu lainnya.
 
Kembali ke Prof. Finkel, dapat dikatakan bahwa baginya, motif dan tujuan perkawinan model terbaru sangat berkaitan dengan teori Abraham Maslow, khususnya pada hirarkhi yang tertinggi, yaitu kebutuhan akan aktualisasi diri. Berbeda dengan jenis kebutuhan yang lainnya, aktualisasi diri adalah kebutuhan manusia yang lebih subtil, berada di wilayah kedalaman batin yang sangat bersifat subyektif.

Bagi Prof. Finkel, di situlah terletak rahasia jatuh bangunnya perkawinan di zaman ini. Mencapai pemenuhan kebutuhan material, mengejar kepuasan seksual, atau mengikuti tuntutan sosial: semua ini tentu bukan hal yang mudah, namun, seperti yang implisit terkandung dalam teori Maslow, pasti tidak serumit pencarian kepuasan aktualisasi diri (itu sebabnya angka perceraian cenderung meninggi). We are our worst enemy: ungkapan ini mungkin bisa menggambarkan problematika yang ada dalam model perkawinan terbaru ini. 

Namun di situ pula terletak potensi terbesarnya. Kalau puncak gunung berhasil dicapai, maka panorama yang terbentang tak terperi indahnya: kalau problematika tersebut dapat diatasi, seperti yang telah dikatakan Prof. Finkel di atas, maka lebih dari masa-masa sebelumnya, perkawinan yang terjadi betul-betul membahagiakan dan produktif. 

Bagaimana cara mencapainya? Adakah resep jitu untuk sukses dalam model perkawinan tipe terakhir ini? Dalam menjawab pertanyaan ini, Prof. Finkel tidak memberi formula yang aneh-aneh. 

Teorinya memang baru, tetapi pada akhirnya kita harus kembali pada kearifan lama: spend more time with your spouse. Luangkan lebih banyak waktu bersama pasangan anda. Berusahalah mengerti satu sama lain. Tumbuh bersama, berkembang bersama, dalam suasana yang saling menghargai. Cinta bukanlah sebuah kata benda, tetapi sebuah kata kerja: kita harus terus belajar dan melakukan hal positif untuk semakin terlibat di dalamnya.

Itulah barangkali pelajaran paling berharga yang dapat dipetik oleh keluarga muda dan kaum muda kita yang akan memutuskan untuk mengikatkan diri dalam bahtera perkawinan. Prof. Finkel memang meneliti dan menulis tentang perkawinan di Amerika Serikat. Tetapi bukankah cinta dan perkawinan mengandung unsur-unsur yang universal? Lagi pula, tidak ada ruginya untuk belajar dari negeri lain, bukan?

Bagaimana Indonesia?

Kalau memang kita ingin membandingkan uraian Prof. Finkel dengan situasi dan model perkawinan di Indonesia, mungkin beberapa hal dapat dikatakan. Model pertama tadi, yaitu institutional marriage, dalam masyarakat kita lebih banyak dipengaruhi oleh adat dan pilihan orang tua, persis seperti dalam novel “Siti Nurbaya: Kasih Tak Sampai” karya Marah Rusli (1922). Sebuah ungkapan Jawa, yaitu bibit, bebet, bobot, juga bisa dianggap sebagai kredo yang menandai semangat zaman itu, khususnya dalam pilihan dan penentuan pasangan hidup. Model semacam ini berlangsung cukup lama, dan mungkin masih terasa sisanya sampai sekarang, terutama di daerah yang masih sarat dengan kultur agraris.

Konvergensi dengan dua model berikutnya sebagaimana yang terjadi di AS mungkin bermula pada dekade 1970, di mana pengaruh film dan counter-culture dari AS semakin merasuk dalam kebudayaan pop Indonesia. Sejumlah film pencarian cinta dan kehidupan anak muda adalah beberapa tonggaknya, seperti “Pengantin Remaja” (1971) yang diperankan oleh Sophan Sophian (Romy) dan Widyawati (Julie). Berturut-turut film lainnya adalah “Ali Topan Anak Jalanan” (1977) dan “Gita Cinta dari SMA” (1979). Masih banyak lagi film dengan genre yang sama, tetapi dasar ceritanya hampir serupa: perlawanan cinta kaum muda terhadap otoritas orang tua, dan hampir semuanya berakhir dengan happy ending. Keluarga mengalah, cinta berjaya.

Setelah itu, walau terjadi belakangan ketimbang transformasi di AS, perubahan yang sama terjadi juga di Indonesia. Urbanisasi, tumbuhnya kelas menengah dan kaum profesional muda, kaum perempuan yang lebih terdidik dan mulai meniti karir di luar rumah, serta, sejak akhir dekade 1990,  reformasi dan tumbuhnya kebebasan serta tuntutan persamaan di depan hukum. Seperti penjelasan Prof. Finkel tadi, semua perubahan ini tentu membawa dampak terhadap lembaga perkawinan. 

Buat Indonesia, mungkin salah satu persoalan yang unik adalah dekatnya perimpitan antara model yang satu dengan yang lainnya. Di Negeri Paman Sam, perubahan lembaga perkawinan berlangsung dalam rentang waktu yang cukup panjang, sementara di Indonesia perubahan tersebut terjadi agak berdekatan, dalam skala historis. 

Akibatnya, dengan mudah kita temukan berbagai dilema yang berbaur dalam persoalan yang dialami oleh keluarga muda dan kalangan muda di masyarakat kita: kadang persoalan tersebut berhubungan dengan problematika aktualisasi diri sebagaimana yang menjadi ciri persoalan model perkawinan ketiga, tetapi terkadang pula urusannya lebih menyangkut dengan keluarga pasangan, dengan mertua, adik atau kakak kandung serta saudara lainnya dari keluarga besar (extended family) di sekitar mereka, suatu persoalan yang masih berada para lingkup model pertama yang berakar pada kultur agraris. Kalau menggunakan teori Maslow, susunan kebutuhan yang harus dipenuhi dalam masyarakat kita tidak sepenuhnya berderet dan bertingkat secara rapih, tetapi kadang menumpuk, bahkan mungkin pula terbolak-balik. 

Jadi dalam hal tertentu beban bagi keluarga muda dan kaum muda kita sebenarnya lebih rumit dan bercabang ketimbang counterpart mereka di negara maju seperti AS. Tapi apapun persoalannya, tentu kita semua berharap bahwa keluarga muda dan kaum muda Indonesia dapat mengarungi perjalanan kehidupan dengan baik, tabah, dan tak mudah patah dalam upaya merebut sukses masa depan, baik dalam karir maupun dalam kehidupan cinta serta keluarga.

Tidak mudah memang. Tapi, seperti yang telah dikatakan Prof. Finkel, tantangan yang lebih besar juga menjanjikan kepuasan dan kebahagiaan yang lebih dalam. Perkawinan mungkin hanya terjadi sekali dalam hidup kita. Make the best of it. Jangan cepat putus asa. God bless you all.

Sumber: http://analisis.news.viva.co.id/news/read/486029-you-make-me-a-better-man—teori-baru-perkawinan