Ar Riyat

Jul 25

“Sejatinya juga, kita tak bisa mengevaluasi capres dari visi-misinya belaka. Dalam ilmu manajemen visi-misi tak pernah terpisah dari values. Inilah landasan moral: Visi-Misi-Values.” — Rhenald Kasali

Jul 24

Ketika Sahabatmu Menikah

nengsifat:

Ini cerita tentang sahabatmu yang akan menikah, kamu pasti punya sahabat dalam hidup kamu, selalu berbagi cerita dan tak ada rahasia bahkan tentang seorang pria yang menjadi belahan jiwanya.

Sahabatmu akan menikah beberapa bulan lagi. Di satu sisi kamu bahagia sekali akhirnya dia menemukan pasangan untuk menjalani sisa hidup bersama, berjalan menuju matahari terbenam. Kamu sangat menyayanginya dan selalu ingin melihatnya bahagia. Namun di sisi lain, kamu pun khawatir.

Bukan apa-apa, kamu hanya berfikir mungkin terlalu terburu-buru baginya memutuskan untuk menikah. Seakan-akan dia berkompromi, karena masalah usia, so she settles for less. Karena tak mau menunggu seseorang yang bisa membuat dia merasakan heart-stopping romance.

Tapi kemudian mungkin terlintas dalam fikirmu : apakah kita pantas untuk menilai dan berkomentar tentang hubungan asmara sahabat kita?

Kalau pun ingin mengatakan sejujurnya pada sahabatmu apa yang ingin kamu tanyakan namun pada akhirnya malah akan menjadi komentar yang menyinggung perasaan sahabatmu, walaupun kamu tak berniat demikian , sudahlah tak usah kita pada mengelak, kita semua saling menilai hubungan asmara satu sama lain.

Meskipun kita tahu bahwa hubungan asmara kita sendiri jauh sekali dari sempurna. Tapi menilai dalam hati dan menyuarakannya adalah dua hal yang berbeda. Sebenarnya pantas nggak sih kita bicara kepada sahabat kita tentang pendapat kita terhadap hubungan yang sedang dia jalani ? Terutama pada saat dia tak meminta pendapat kita.

Bisa aja kamu memberikan komentar kalau kamu merasa kurang "sreg" dengan pria pilihan sahabatmu karena kamu tak yakin kalau si pria sincere terhadap sahabatmu dan terlalu banyak hal yang janggal untuk diterima oleh common sense kamu.

Tapi sekali kamu mengucapkan hal tersebut maka kamu harus terima akibatnya kareba kata-kata tak dapat ditarik kembali itu adalah hukum komunikasi dan risikonya adalah kamu bisa saja kehilangan sahabat kamu. Dan apa sanggup kamu menggadaikan persahabatan kamu selama ini ?

Apalagi kalau ternyata di kemudian hari skamu salah menilai. Sudah ‘sok-sok’ memberikan pendapat tanpa diminta, kemudian salah dan kehilangan sahabat pula.

Karena di hati terdalam kamu sesungguhnya kamu sadar bahwa kamu tak benar-benar mengerti bagaimana situasi dan kondisi hubungan mereka berdua dan alangkah lebih baiknya jika kamu tak perlu berkomentar apalagi sok tau sambil melarang dan menyuruh sahabatmu untuk berpikir dua kali sebelum menikah. Selain itu juga kamu pasti tak mau terdengar seperti bitterbitch yang nggak suka lihat sahabatnya bahagia.

Memang sulit untuk tak berkomentar apalagi setiap saat kamu dan sahabatmu selalu berbagi cerita, tapi ada beberapa hal yang membuat kita harus menahan diri untuk tidak ’blak-blakan’ mengemukakan pendapat. Yang pertama, lihat terlebih dahulu seberapa seriusnya hubungan yang sedang dijalani sahabatmu.

Dulu, waktu di usia yang (jauuuhh) lebih muda, kamu mungkin takkan sekhawatir sekarang. Kamu ataupun sahabatmu punya banyak waktu untuk saling mengenal satu sama lain dan tidak terburu-buru, jadi kamu berharap bahwa sahabat kamu akan menyadari kalau si pasangannya ini nggak baik untuk dia, ini yang mungkin memenuhi pikiran kamu.

Nah, masalahnya kalau tiba-tiba memutuskan bahwa mereka akan menikah ? Kalau ini yang terjadi, saran terbaik untuk kamu, sebaiknya apa yang akan kamu bicarakan kepada sahabat kamu, dipikirkan 'masak-masak' dan disampaikan dengan nada netral.

Berbicaralah dari hati ke hati supaya rasa penasaran kamu terobati tentang apa alasan sahabatmu memutuskan menikah, dan pastikan bahwa pasangannya memang bisa memenuhi ekspektasi sahabat kamu tersebut.

Kedua, mungkin kamu berfikir kenapa seh suka sekali menilai hubungan orang lain ? Kamu mesti jujur dulu kepada diri sendiri, apakah kamu tidak suka terhadap hubungan yang sahabat kamu jalani karena kamu cemburu?

Cemburu karena sahabatmu sudah memiliki pasangan terlebih dahulu, cemburu karena sahabat kamu menghabiskan waktu lebih banyak dengan pasangannya, cemburu karena sepertinya pasangan sahabat kamu potensial sekali dan kelihatan lebih baik daripada pasangan kamu—atau cemburu apa pun lah.

Kalau kejadiannya seperti ini sih, mungkin kamu yang bermasalah. Bukan sahabat kamu. Atau jangan-jangan kamu ga suka sama hubungan tersebut, karena kamu memandang pasangan sahabat kamu sebagai orang yang ‘aneh’, cara berbicaranya sombong, selera berpakaiannya aneh—atau yang yang lainnya.

Terkadang sebagai perempuan, mudah sekali ilfeel sama hal-hal yang 'remeh temeh' dan kadang gak masuk akal. Bisa jadi ini karena kita terlalu memiliki prejudis. Mungkin kita harus lebih mencoba mengenal lebih dalam dan stop berkomentar.

Sekali kamu berkomentar, besar kemungkinannya sahabat kamu akan defensif. Ya iyalah, kalau kamu yang dikomentarin pasti bakalan melakukan hal yang serupa,kan ? Selain itu ada kemungkinan juga sahabat kamu akan membalas dengan mengomentari hubungan asmara kamu (kalau punya) atau dengan sinis bilang kalau mungkin kamu saja yang terlalu nyinyir karena kelamaan jadi single. Nah, udah siap belum buat dikomentarin balik?

Satu lagi yang perlu diingat, kalau kamu memutuskan untuk berkomentar : konsekuensinya adalah selain sahabat kamu akan marah besar dan kemudian menjaga jarak, konsekuensi lainnya adalah sahabat kamu akan mendengarkan saran kamu terus dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan pasanganya, setega itukah kamu ?

Dia akan patah hati dan kamu harus siap setiap saat untuk menghiburnya—walaupun dalam hati kamu dongkol dan berpikir bahwa tidak ada yang perlu ditangisi dari pria yang kamu anggap tidak bermutu itu. Namun kadang kala yang terjadi bisa lebih parah dari apa yang kamu duga : kemungkinan bahwa suatu saat sahabat kamu akan menyalahkan kamu atas kandasnya hubungan dia dengan pasangannya.

Kalau pun pada akhirnya kamu memutuskan bahwa memang harus berkomentar, mungkin sebaiknya kamu dapat menyampaikannya dengan hati-hati. Maksudnya adalah, jangan sampai sahabat kamu jadi salah mengerti karena apa yang kamu sampaikan dengan kata-kata yang salah.

Pastikan bahwa sahabat kamu mengerti bahwa kamu berkomentar semuanya untuk kebaikan sahabat kamu bahwa sahabat kamu layak bahagia dengan orang yang memang berusaha membuat hubungan mereka berhasil.

Yang pasti kamu harus menjadi sahabat yang suportif, tidak usaha menghakimi dengan mengatakan semuanya adalah demi kepentingan sahabat kamu. Jangan lupa juga sampaikan bahwa apapun yang terjadi kamu akan selalu ada di samping dia karena kamu berbahagia atas apa yang sudah diputuskan oleh sahabatmu dalam hidupnya.

Durian sicincin. Amboi! with Andina – View on Path.

Durian sicincin. Amboi! with Andina – View on Path.

Jul 23

likalulu:

faqiehkisr:

Lakukan hal baik yang bisa kita lakukan, yuk berani jadi orang yang lebih baik lagi >:D ( tag @gamaisitb )

Berani lebih baik, Bismillah :D

likalulu:

faqiehkisr:

Lakukan hal baik yang bisa kita lakukan, yuk berani jadi orang yang lebih baik lagi >:D ( tag @gamaisitb )

Berani lebih baik, Bismillah :D